RAMADAN hampir tiba pada ujungnya. Di Tanah Suci, jutaan jemaah memadati Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Mereka berdoa dengan air mata yang jatuh tanpa suara, merindu satu malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Dalam keheningan Haramain, doa-doa dipanjatkan dengan penuh harap.
Pada saat yang sama, dunia tidak selalu bergerak seindah doa-doa. Dari layar media, kita menyaksikan ketegangan dan konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas oleh rivalitas antara Iran dan Israel. Di sinilah muncul sebuah tanya, “Bagaimana kita memaknai puncak spiritual Ramadan ketika dunia masih diselimuti bayang-bayang perang?”
Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan politik, tetapi tentang merajut pengalaman spiritual yang menyentuh inti ibadah itu sendiri. Apakah tangisan seorang hamba di kaki Ka’bah dan Raudhah al-Mutaharah hanya berhenti pada keselamatan dirinya, ataukah bisa menjelma menjadi doa bagi keselamatan dunia? Di antara umrah, Lailatulqadar, dan Idulfitri, tersimpan sebuah pelajaran besar bahwa kesalehan sejati tidak hanya lahir dari kedekatan dengan Tuhan, tetapi juga hadir dari kepedulian terhadap nasib kemanusiaan.
Imam al-Ghazali pernah menegaskan bahwa inti ibadah bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan kehadiran hati (hudur al-qalb). Dalam Ihya Ulum al-Din, ia mengingatkan bahwa ibadah harus melahirkan kesadaran moral terhadap dunia di luar diri. Karena itu, pengalaman umrah di bulan Ramadan seharusnya tidak berhenti pada keharuan personal saja, tetapi bertransformasi menjadi empati sosial yang nyata. Tangisan di Tanah Suci akan kehilangan makna jika hati tetap beku terhadap penderitaan sesama. Ramadan sendiri sesungguhnya mengajarkan dimensi tersebut secara mendalam.
Yusuf al-Qaradawi, ulama kontemporer yang produktif menulis fikih sosial Islam, pernah mengatakan bahwa ibadah dalam Islam memiliki dua dimensi, yakni ta’abbudi (penghambaan kepada Allah) dan ijtima’i (tanggung jawab sosial). Dalam konteks inilah, Lailatulqadar memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual individu.
Harapan
Malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam turunnya rahmat itu bukan sekadar momentum untuk memperbanyak doa pribadi. Ia adalah simbol bahwa langit sedang membuka pintu harapan bagi bumi. Ketika seorang jemaah berdoa di Haramain pada malam itu, doa yang dipanjatkan tidak hanya tentang keselamatan dirinya, tetapi juga tentang keselamatan dunia.
Umat Islam merayakan Idulfitri dengan penuh kegembiraan. Namun, dunia masih menyaksikan peperangan dan tragedi kemanusiaan yang memilukan. Fakta ini adalah salah satu dari sekian banyak cermin bahwa dunia yang belum menemukan kedamaian hakiki.
Situasi ini mengingatkan kita pada pandangan Ibnu Taimiyah yang pernah menulis bahwa kerusakan di bumi sering kali berakar pada dua hal: kezaliman dan keserakahan manusia. Perang, dalam perspektif ini, bukan hanya persoalan politik, tetapi juga merupakan krisis moral.
Berikutnya, Idulfitri yang datang di penghujung Ramadan sesungguhnya membawa pesan yang sangat mendalam. Kata fitri dipahami sebagai kembali kepada kesucian. Makna itu ternyata tidak hanya bersifat individual, tetapi juga bersifat sosial, yakni menuntut lahirnya masyarakat yang adil dan lebih empatik. Pada ujungnya, di tengah bayang-bayang perang, pesan ini terasa semakin relevan bagi kita semua.
Jika umrah mengajarkan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan Lailatulqadar mengajarkan harapan akan rahmat-Nya, maka Idulfitri mengajarkan rekonsiliasi. Ketiganya sebenarnya mengarah pada satu pesan universal: membangun dunia yang lebih damai dan manusiawi.
Semoga. ***
Oleh: AANG RIDWAN
Penulis adalah Pembimbing Haji Khusus dan Umrah Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung
Dipublikasi di Pikiran Rakyat tanggal 17 Maret 2026
