
Bandung — Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam atau KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dhia Disti Salsabila, menerapkan kompetensi jurusan melalui pengelolaan konten media sosial di Istana Kepresidenan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui program Praktik Profesi Mahasiswa atau PPM yang menjadi bagian dari proses pembelajaran lapangan bagi mahasiswa KPI. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi, tetapi juga dituntut mampu menerapkannya dalam dunia kerja profesional.
Dhia menjalani PPM di Istana Kepresidenan Cipanas, lembaga pemerintah yang berada di bawah Sekretariat Presiden Republik Indonesia. Dalam laporan PPM, fokus kegiatan yang diangkat adalah desain komunikasi visual pada media sosial lembaga pemerintah.
Pemilihan bidang tersebut sejalan dengan perkembangan komunikasi digital saat ini. Media sosial menjadi salah satu medium strategis lembaga pemerintah dalam menyampaikan informasi, membangun citra, serta menjalin komunikasi yang transparan dengan publik.
Dalam konteks tersebut, desain komunikasi visual memiliki peran penting. Konten pemerintah tidak cukup hanya informatif, tetapi juga perlu disajikan secara menarik, rapi, dan sesuai dengan identitas kelembagaan.
Selama menjalani PPM, Dhia dipercaya berperan dalam pengelolaan konten media sosial Istana Kepresidenan Cipanas. Ia terlibat dalam proses perencanaan, produksi, dokumentasi visual, hingga pascaproduksi konten digital.
Tugas yang dijalankan Dhia mencakup pembuatan template Instagram Story, desain feed, cover Reels, dokumentasi foto dan video kegiatan, editing konten, hingga penyusunan materi visual yang komunikatif dan estetis. Dalam laporan PPM, tujuan kegiatan ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan perancangan desain grafis dan pengelolaan konten visual lembaga.
Pengalaman tersebut menjadi bentuk nyata penerapan kompetensi KPI, terutama dalam ranah i’lam atau komunikasi dan penyiaran. Dhia tidak hanya membuat konten, tetapi juga belajar bagaimana pesan lembaga pemerintah harus disampaikan secara akurat, terukur, dan tetap menjaga wibawa institusi.
Selain i’lam, kegiatan ini juga beririsan dengan kompetensi kitabah. Dalam pengelolaan media sosial, kemampuan menulis dibutuhkan untuk menyusun narasi, caption, press release, dan pesan informasi yang mudah dipahami publik.
Kompetensi khitobah juga tetap relevan dalam praktik ini. Kemampuan memahami audiens, memilih bahasa yang tepat, dan menyampaikan pesan secara komunikatif menjadi bagian penting dalam produksi konten digital lembaga pemerintah.
Dhia menyampaikan bahwa pengalaman PPM di Istana Kepresidenan Cipanas memberikan pembelajaran penting tentang standar komunikasi lembaga negara. Menurutnya, konten media sosial pemerintah harus dibuat dengan mempertimbangkan ketepatan informasi, estetika visual, serta etika publikasi.
“Selama PPM, saya belajar bahwa konten media sosial lembaga pemerintah tidak hanya harus menarik secara visual, tetapi juga harus akurat, sopan, dan sesuai dengan identitas lembaga,” ujar Dhia.
Ia juga menjelaskan bahwa proses produksi konten di lingkungan kenegaraan memiliki tantangan tersendiri. Setiap dokumentasi dan materi publikasi harus melewati proses seleksi agar sesuai dengan aturan protokol, keamanan visual, serta citra lembaga.
Secara tidak langsung, Dhia menilai bahwa pengalaman tersebut melatih kedisiplinan, kepekaan komunikasi, dan kemampuan adaptasi. Ia harus mampu menyesuaikan kreativitas desain dengan standar formal yang berlaku di lingkungan Istana Kepresidenan Cipanas.
Dalam laporan PPM, hasil yang dicapai meliputi manajemen media sosial, dokumentasi visual, dan pascaproduksi digital. Beberapa capaian tersebut antara lain pengelolaan konten Instagram resmi Istana, perancangan Instagram Stories dan feeds, desain ucapan resmi lembaga, cover video Reels, dokumentasi kegiatan internal dan eksternal, editing video, pembuatan infografis, serta penyusunan narasi visual informatif.
Kegiatan PPM ini juga memperlihatkan bahwa mahasiswa KPI memiliki peluang luas di bidang komunikasi digital. Kompetensi yang dipelajari di jurusan tidak hanya dapat diterapkan pada ruang dakwah konvensional, tetapi juga pada lembaga pemerintahan, media digital, dan komunikasi publik.
Kasubag Protokol dan Layanan Istana Kepresidenan Cipanas yang juga menjadi mentor lapangan menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi mahasiswa UIN Bandung tersebut. Kehadiran mahasiswa dinilai membantu pengelolaan media sosial dan memberi warna baru dalam tampilan konten digital lembaga.
“Kami merasa sangat terbantu selama ada anak magang. Mereka membawa warna baru, khususnya dalam pengelolaan media sosial. Istana Kepresidenan Cipanas merasa sangat puas dengan hasil yang telah dilakukan oleh mahasiswa dari UIN Bandung ini,” ungkapnya.
Dosen pembimbing PPM, Uwes Fatoni, turut memberikan apresiasi atas capaian Dhia selama menjalankan praktik profesi. Ia menilai keberhasilan mahasiswa menembus lembaga pusat menjadi langkah penting bagi penguatan jejaring dan prospek kerja lulusan KPI.
“Kami sangat mengapresiasi gebrakan baru ini. Lolosnya mahasiswa ke lembaga pusat merupakan prestasi dan terobosan bagi jurusan KPI. Kami berharap jejak ini dilanjutkan oleh angkatan selanjutnya di lembaga yang sama, karena ini menjadi peluang besar untuk prospek kerja mahasiswa ke depan,” ujar Uwes Fatoni.
Melalui PPM ini, Dhia Disti Salsabila tidak hanya menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa kompetensi KPI dapat menjawab kebutuhan komunikasi digital lembaga pemerintah. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memasuki dunia profesional sebagai komunikator, pengelola media sosial, content creator, dan praktisi komunikasi publik yang mampu bekerja secara kreatif sekaligus bertanggung jawab.
