Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf Lahir dan Bathin — Perkuliahan Semester Genap 2025/2026 dilaksanakan secara offline mulai tanggal 1 April 2026 —
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf Lahir dan Bathin — Perkuliahan Semester Genap 2025/2026 dilaksanakan secara offline mulai tanggal 1 April 2026 —

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) melaksanakan survei minat mahasiswa semester 5 terhadap tiga bidang utama dalam keilmuan KPI, yaitu Khitobah, Kitabah, dan I’lam. Survei ini dilakukan pada 1–3 September 2026 untuk memperoleh gambaran mengenai bidang yang paling diminati mahasiswa serta aspek kompetensi yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan pembelajaran Prodi KPI. Jumlah data yang dianalisis adalah 117 mahasiswa dari kelas KPI 5A, KPI 5B, KPI 5C, dan KPI 5D.

Instrumen survei terdiri atas 15 pernyataan dengan skala 1–5. Masing-masing bidang diukur melalui lima aspek, yaitu minat mempelajari teori, minat melakukan praktik, minat menghasilkan karya, minat melakukan penelitian, serta minat mengembangkan bidang tersebut untuk kebutuhan akademik, dakwah, dan profesi.

Hasil survei menunjukkan bahwa bidang I’lam atau media penyiaran memperoleh rata-rata minat paling tinggi, yaitu 4,20. Selanjutnya, bidang Khitobah memperoleh rata-rata 3,78, sedangkan Kitabah memperoleh rata-rata 3,56. Ketiga bidang tersebut berada pada tingkat minat yang relatif tinggi berdasarkan rentang interpretasi yang digunakan dalam laporan survei.

Kecenderungan minat terhadap I’lam terlihat pada hampir seluruh aspek yang diukur. Mahasiswa menunjukkan ketertarikan yang kuat untuk terlibat dalam praktik produksi media, menghasilkan karya multimedia, mempelajari teori dan teknologi media, serta mengembangkan kompetensi di bidang penyiaran dan industri kreatif. Sebanyak 72,6 persen responden memiliki rata-rata skor I’lam minimal 4.

Indikator dengan skor tertinggi dalam survei adalah minat terlibat dalam praktik produksi media dengan rata-rata 4,27. Indikator berikutnya adalah minat menghasilkan karya multimedia dengan rata-rata 4,26 dan minat mempelajari teori, teknologi, serta proses produksi media dengan rata-rata 4,22. Hasil ini menunjukkan bahwa ketertarikan mahasiswa terhadap I’lam tidak hanya berada pada pemahaman konsep, tetapi juga pada kegiatan produksi dan penciptaan karya.

Khitobah menjadi bidang dengan rata-rata minat tertinggi kedua. Mahasiswa paling tertarik mempelajari teori dan teknik public speaking, seperti ceramah, pidato, presentasi, dan komunikasi di depan publik. Minat terhadap praktik public speaking juga memperoleh skor relatif tinggi. Sementara itu, aspek penelitian fenomena Khitobah memperoleh skor lebih rendah dibandingkan aspek teori dan praktik.

Kitabah memperoleh rata-rata paling rendah dibandingkan dua bidang lainnya. Meskipun demikian, minat mahasiswa terhadap Kitabah tetap berada pada tingkat relatif tinggi. Mahasiswa menunjukkan ketertarikan pada penulisan untuk kebutuhan media dan profesi, seperti berita, artikel, feature, opini, naskah, copywriting, dan content writing. Indikator penelitian fenomena Kitabah memperoleh skor terendah dalam keseluruhan instrumen, yaitu 3,44.

Jika dilihat berdasarkan minat dominan, I’lam menjadi bidang dominan bagi 63 mahasiswa atau 53,8 persen responden. Khitobah menjadi bidang dominan bagi 17 mahasiswa, sedangkan Kitabah menjadi bidang dominan bagi 13 mahasiswa. Selain itu, terdapat mahasiswa yang memiliki minat lintas bidang, seperti Khitobah dan I’lam, Khitobah dan Kitabah, Kitabah dan I’lam, serta minat yang seimbang pada ketiga bidang.

Perbandingan berdasarkan kelas menunjukkan bahwa I’lam menjadi bidang dengan skor rata-rata tertinggi di KPI 5A, KPI 5B, KPI 5C, dan KPI 5D. KPI 5D memiliki rata-rata Khitobah dan I’lam tertinggi, sedangkan KPI 5A memiliki rata-rata Kitabah tertinggi. Perbedaan ini merupakan gambaran deskriptif dan perlu dibaca secara hati-hati karena jumlah responden tiap kelas tidak sama.

Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen survei memiliki konsistensi internal yang baik. Nilai Cronbach’s Alpha untuk Khitobah adalah 0,846, Kitabah 0,920, dan I’lam 0,910. Hasil ini menunjukkan bahwa butir-butir pertanyaan dalam setiap bidang relatif konsisten dalam mengukur minat mahasiswa.

Bagi Prodi KPI, hasil survei ini menjadi salah satu bahan evaluasi untuk mengembangkan pembelajaran yang menghubungkan teori, praktik, produksi karya, penelitian, dan kesiapan profesi. Temuan tentang tingginya minat pada I’lam dapat menjadi masukan dalam pengembangan praktik produksi video, podcast, dokumenter, penyiaran, editing, dan konten digital. Minat pada Khitobah dapat diperkuat melalui kegiatan public speaking, presenter, MC, moderator, dan narasumber. Sementara itu, Kitabah dapat dikembangkan melalui penulisan berita, feature, script video, copywriting, artikel web, dan publikasi karya mahasiswa.

Prodi KPI juga merencanakan tindak lanjut berupa pembahasan hasil survei dalam forum prodi, pemetaan hubungan antara minat mahasiswa dan mata kuliah, pengembangan proyek pembelajaran, dokumentasi portofolio, serta pelaksanaan survei lanjutan mengenai kemampuan aktual, pengalaman praktik, fasilitas, hambatan belajar, kebutuhan magang, dan pilihan karier mahasiswa.

Survei ini mengukur minat yang dinyatakan mahasiswa, bukan kemampuan aktual atau prestasi mereka. Oleh karena itu, hasilnya perlu dipadukan dengan data akademik, pengalaman organisasi, portofolio, masukan dosen, dan evaluasi program lainnya. Dengan cara tersebut, hasil survei dapat menjadi dasar pengembangan Prodi KPI yang lebih responsif terhadap minat mahasiswa dan perkembangan kebutuhan profesi di bidang komunikasi, dakwah, dan media. This comprehensive approach ensures that the insights derived from the survey are both relevant and actionable. By integrating various sources of data, stakeholders can identify trends and gaps in student interests, which can inform curriculum enhancements and resource allocation. Furthermore, it fosters a dynamic academic environment that adapts to the evolving landscape of communication, preaching, and media professions. Ultimately, this alignment will better equip students for future challenges and opportunities in their chosen fields.

Ikon yang Konsisten Membuat Fitur Permainan Lebih Mudah Ditemukan dan DiingatMahjong Ways Menjaga Nuansa Tradisional Asia dalam Mekanisme Permainan Digital ModernCascade Berlapis Mahjong Ways 2 Membentuk Ritme yang Berubah di Setiap RangkaianMahjong Wins 3 Mempertahankan Identitas Asia lewat Susunan Ubin Tradisional yang KhasStruktur Grid Menentukan Cara Pengguna Membaca Hubungan dan Kombinasi Antar-SimbolAnalitik Real-Time Membantu Platform Game Mengenali Lonjakan Trafik sebelum Layanan MelambatData Pipeline Menentukan Seberapa Efisien Platform Memproses Aktivitas dalam Skala BesarObservability Membantu Tim Teknologi Menemukan Gangguan sebelum Pengguna Merasakan DampaknyaData Melimpah Belum Tentu Berguna jika Kualitas Informasinya Tidak TerjagaPemrosesan Data Cepat Menjaga Respons Platform Tetap Stabil saat Aktivitas MelonjakAlasan Rangkaian Hasil Serupa Wajar Muncul dalam Sistem yang Bekerja AcakCara Menjaga Metode Pencatatan Tetap Sama agar Datanya Bisa DibandingkanInformasi Apa yang Wajib Dicantumkan Penyedia pada Halaman Aturan PermainanMotif Ubin, Ornamen, dan Warna Tradisional yang Menjadi Rujukan Visual Mahjong WaysAturan Berapa Kali Simbol Mahjong Ways 2 Dapat Gugur dalam Satu PutaranDaftar Perubahan Tampilan Mahjong Wins 3 Menurut Catatan Pembaruan ResminyaCara Membaca Susunan Baris dan Kolom Sebuah Slot Bergrid dari Halaman AturanContoh Satu Rangkaian Gugur Diuraikan Tahap demi Tahap dari Aturan PermainanPengaruh Kehadiran Pemain Lain terhadap Keputusan Seseorang di Ruang InteraktifPeran Nada Naik dan Jeda Suara dalam Membentuk Dugaan Sebelum Hasil Tampil