A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Unparenthesized `a ? b : c ? d : e` is deprecated. Use either `(a ? b : c) ? d : e` or `a ? b : (c ? d : e)`

Filename: helpers/url_helper.php

Line Number: 162

Backtrace:

File: /home/kpiuinsg/public_html/application/controllers/Web.php
Line: 8
Function: __construct

File: /home/kpiuinsg/public_html/index.php
Line: 298
Function: require_once

- KPI - FAK. DAKWAH UIN SGD

UMRAH SEBAGAI SISTEM IMUN

Oleh: Dr. H. Aang Ridwan, M.Ag

Sebagai penanda kesempurnaan keberimanan dan keberisalaman, dalam keseluruhan rangkaian pelaksanaan ibadah umrah, terdapat sejumlah hal yang ditetapkan menjadi rukun, wajib, sunah dan fadilah.  Dalam semua ketetapan itu, terdapat sejumlah nilai adiluhung, baik yang bersifat; teologis, etis, estetis bahkan pragmatis.  Meminjam Teori Inokulasi komunikasi dari Wiliam J McGuire (1997), seluruh nilai  itu, sejatinya menjadi vaksin untuk membangun sistem imun dan kekebalan mental pada diri jemaah untuk tidak mudah hanyut dalam hiruk pikuk kehidupan menyimpang terutama yang sebabkan oleh derasnya arus banjir bandang informasi.

Dalam ledakan perkembangan teknologi media komunikasi, masyarakat Indonesia sekarang, berada pada zona cornucopias of communication, era tumpah-ruahnya komunikasi. Dalam kajian cultural studies hal ini lazim disebut communicative abudance, yakni era keberlimpahan komunikasi. Di era ini, proses komunikasi benar-benar overload atau melampaui ambang batas. Berbagai informasi berupa; teks, tanda, bunyi, gambar, pesan-pesan visual dan audio-visual, dengan misinya yang bernuansa idiologis terutama politis sangat nyata membanjiri berbagai sisi kehidupan rakyat Indonesia. Sayangnya, keberlimpahan komunikasi yang masuk dan menusuk pada ruang kognisi dan afeksi ini, berbarengan juga dengan momentum kontestasi elektoral dan Pilpres 2019.

Pada bingkai momentum ini, sangat kontras dirasakan terutama pada kanal-kanal informasi di media sosial, propaganda yang menghembuskan aroma tawuran dan peperangan (warmongering),  semisal; kampanye menyerang (attacking campaign), kampanye negatif (negative campaign), dan kampanye hitam (blakck campaign), terus diproduksi, direproduksi, bahkan didistribusikan untuk dikonsumsi khalayak Indonesia secara masif. Karena itu hal-hal semisal, hoaks, fake news, ujaran kebencian (hatespeech), menjadi menu harian yang mudah ditemukan pada media sosial.

Melalui sejumlah nilai positif yang ditemukan dalam keseluruhan rangkaian ibadah umrah, sejatinya setiap jemaah bisa melakukan inokulasi informasi, yakni menyuntikan nilai-nilai tersebut sebagai vaksin kekebalan mental. Dalam bentuknya yang paling sederhana, inokulasi bisa dilakukan dengan cara memahami secara kritis kebutuhan informasi. Entah itu kebutuhan informasi agama, sosial, budaya, terlebih informasi politik.  Berbagai informasi yang disuguhkan media sosial maupun media arus utama (mainstream) tidak sekedar dikonsumsi apalagi diredistribusikan tetapi harus diverifikasi secara kritis. Ketahui secara pasti darimana informasi itu berasal.Sekaitan dengan itu, dalam Surat Al-Hujurat ayat 6, Allah menegaskan,Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Langkah inokulasi komunikasi berikutnya, dilakukan dengan cara menghormati perbedaaan sebagai suatu keniscayaan. Munculnya perbedaan penafsiran para imam madzhab dalam menginterpretasi hadits, khudu ‘anni manasikakum, “ikutilah dariku cara manasik hajimu”, telah berimplikasi terhadap lahirnya perbedaan pemahaman tentang aspek-aspek mana saja yang rukun, wajib, sunnah dan fadilah dalam haji dan umrah. Dalam praktiknya, perbedaan produk hukum ini telah dipahami dan dimaklumi bersama (mutual understanding) oleh jemaah haji dan umrah sebagai sesuatu yang niscaya, hingga mereka tidak terjebak pada climtruth yang konfliktual.

Karena itu, sikap toleran terhadap perbedaan sebagaimana ditemui dalam praktik haji dan umrah, adalah vaksin yang bisa diinjeksikan untuk mebangun kekebalan mental dalam menghormati ragam perbedaan dalam realitas kehidupan termasuk pilihan politik. Karena itu, sikap toleran,  dialog terbuka dan hangat dalam beradu argumentasi  tentang hal-hal yang perlu diverifikasi, sejatinya menjadi penada jemaah haji dan umrah sebagai alumni tamu Allah yang maqbul dan mabrur.

Dalam kontek Inokulasi komunikasi, sejumlah nilai yang diperoleh jemaah sepanjang perjalanan ibadah umrah, sejatinya dapat dipahami secara kritis dan mendalam, kemudian dinternalisasikan menjadi kerangka pikir, kerangka rasa, kerangka ucap dan kerangka tindak yang elegan dan toleran. Karena dengan begitu, ibadah umrah akan berfungsi sebagai vaksin yang berfungsi membangun sitem imun dan daya tahan mental.


KAJUR KPI NASIHATI ISYANA SARASVATI

.

Hari Minggu Tanggal 02 bulan 02 tahun 2020, bisa jadi merupakan hari yang sangat bersejarah bagi selebritis asal Kota…

MENGISI LIBURAN SEMESTER, MAHASISWA KPI IKUTI PANTURA INTERFAITH JOURNEY

.

Semarang, Meski sedang liburan semester Mahasiswa KPI  UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak pernah berhenti…

ADAKAN PELATIHAN EDITOR, JURNAL TABLIGH KPI SIAP DIAKREDITASI

.

Bandung, Jurusan KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung bersiap untuk mendaftarkan Jurnal Tabligh: Jurnal Komunikasi…

SEKJUR KPI IKUTI LAUNCHING PUSAT STUDI PUBLIKASI ILMIAH DI SURABAYA

.

Surabaya, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag, Sekretaris Jurusan KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpartisipasi aktif dalam…

Kunjungan Hari Ini:
Kunjungan Kemarin:
Total Kunjungan: