MODUS BLACK CAMPAIGN

Oleh: Dr. H. Aang Ridwan, M.Ag

Hiruk pikuk kampanye dalam rangka remach (tanding ulang) kandidasi antara Jokowi dan Prabowo sangat gaduh terasa. 

Masing-masing kubu dengan basis pemilih loyalnya (strong voters), tidak hanya aktif dalam melakukan kampanye positif dalam rangka branding, positioning, dan segmenting sang kandidat. Tetapi juga sangat produktif melakukan black campaign dengan melakukan produksi, reproduksi dan distribusi hoaks, fake news, hatespeech, dan sebangsanya. Buahnya, potensi konflik menyeruak hampir disemua ruang nyata dan maya.

Gun Gun Heryanto (2019:143), seorang pakar Komunikasi Politik yang lahir dari rahim Universitas Islam Negeri di tanah air, mengintrodusir ada empat modus black campaign yang lazim di produksi pada musim semi kandidasi dan kontestasi elektoral pilpres dan pileg.

Pertama, distorsi informasi, dengan sadar hal ini didesain untuk menimbulkan kesalah pahaman dan kegaduhan kedua kubu yang bertarung. Ketegangan yang muncul dari distorsi informasi ini  digunakan untuk mengkonstruksi dan merekonstruksi citra positive sang pelaku dan mendistruksi citra pasangan lawan.

Kedua, pembunuhan karakter (characteristic assassination), hal ini diproduksi atas orientasi  delegitimasi lawan. Teknik name calling, yakni pemberian label buruk pada lawan dan card stacking, narasi yang memberi efek domino pada khalayak yang kadang abai terhadap verifikasi kesahihannya.

Ketiga, damaturgi cerita palsu. Modus ini dilakukan dengan mengkonstruksi narasi bohong dengan memanfaatkan kondisi psikologis khalayak yang pada umumnya saat musim semi kandidasi mengidap syndrom post-truth, yakni suasana batin yang lebih mengimani nafsu prasangka dan subjektivitas  pribadi  ketimbang ra’yu dan objektivitas fakta.

Keempat, eksploitasi isu berdaya ledak tinggi seperti SARA dengan memanfaatkan mobilisasi masa dan politik identitas. Eksploitasi biasanya diarahkan dengan cara mengintimidasi votegetter baik dengan aksi persekusi ataupun sweeping. Hal yang kontras dari modus black campaign ini adalah menumbuh suburkan mental bigot, yakni sebuah kondisi mental yang memposisikan siapapun yang beda pilihan dengannya sebagai kelompok yang dungu.

Efek dari berbagai modus black campaign ini, dalam kanal-kanal dunia maya, terjadilah tawuran propaganda yang menghembuskan nafsu peperangan (warmongering). Sementara pada dunia nyata, ditandai  lahirnya aksi saling mengunci mati lawan melalui adu lapor kasus-kasus hukum yang abu-abu. 

Dalam berbagai literasi politik disimpulkan, kontestasi kandidasi yang ditandai tumbuh suburnya black campaign, menandakan rendahnya kualitas akademis, hilangnya intelectual honesty, dan rendahnya keadaban.


TABLIGH DI ERA NEW MEDIA BERSAMA K.H. Dr. JUJUN JUNAEDI, M.Ag

.

Bandung – Mahasiswa KPI semester 3 hari ini (28/11) berkesempatan mendengarkan langsung Stadium General yang…

SETETES DARAH UNTUK KEHIDUPAN

.

Sejumlah Mahasiswa dibantu oleh petugas PMI melakukan donor darah di Aula Abjan Sulaiman. Kampus Universitas Islam Negeri…

Ketua Jurusan KPI Raih Juara pada MTQ V Korpri Tingkat Nasional di Kendari Sulawesi Tenggara

.

Kendari,  Dewan Hakim MTQ V Korpri mengumumkan kejuaraan MTQ V Korpri Tingkat Nasional di pelataran tugu Kota…

STAI DARUT TAUHID BANDUNG KUNJUNGI PRODI KPI UIN BANDUNG

.

Pada hari senin tanggal 27 Januari 2020, Prodi KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Dajati Bandung…

Kunjungan Hari Ini:
Kunjungan Kemarin:
Total Kunjungan: